Bantuan tersebut berisi buku tulis, alat tulis, tas sekolah, seragam cadangan, serta buku cerita anak. Paket ini diharapkan dapat membantu anak-anak tetap melanjutkan proses belajar meski masih tinggal di tenda darurat maupun hunian sementara (huntara).
Berdasarkan data posko pengungsian, hingga pertengahan Januari 2026 sedikitnya 1.200 jiwa masih mengungsi di Pematangsiantar. Sebagian besar pengungsi merupakan keluarga dengan anak usia sekolah yang terdampak langsung banjir.
Ketua Siantar Peduli Anak, Rina Sitorus, mengatakan anak-anak korban banjir telah kehilangan banyak hal, mulai dari tempat tinggal hingga perlengkapan sekolah. Oleh karena itu, dukungan pendidikan menjadi kebutuhan mendesak.
“Anak-anak ini sudah kehilangan rumah, mainan, bahkan buku pelajaran mereka hanyut terbawa banjir. Jika mereka sampai putus sekolah, itu bisa menciptakan kemiskinan baru di masa depan,” ujarnya saat menyerahkan bantuan secara simbolis.
Salah satu penerima bantuan, Siska (11), siswi kelas V SD yang rumahnya di bantaran Sungai Bah Bolon rusak parah, mengaku senang menerima buku dan perlengkapan baru.
“Saya kangen sekolah. Sekarang bisa belajar lagi di tenda, meskipun kadang hujan masuk,” katanya sambil tersenyum.
Aksi sosial ini mendapat apresiasi dari Kepala Dinas Pendidikan Kota Pematangsiantar, Drs. H. Maruli Tua Pasaribu, M.Pd. Ia menyebutkan pemerintah daerah tengah berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk mempercepat pembangunan huntara yang layak serta penyediaan sekolah darurat berbasis komunitas.
“Kami menargetkan akhir Februari 2026 sebagian besar anak sudah dapat kembali belajar di ruang kelas sementara yang lebih baik,” jelasnya.
Kondisi serupa juga terjadi di sejumlah daerah lain di Sumatera Utara seperti Simalungun, Toba, dan Tapanuli Utara, di mana banjir menyebabkan ribuan anak kehilangan akses pendidikan normal. Pengamat sosial Universitas Negeri Medan, Dr. Agus Salim, menilai pemulihan pascabencana tidak cukup hanya berfokus pada pembangunan fisik.
“Pendidikan adalah benteng terakhir melawan kemiskinan antargenerasi. Jika anak-anak ini terlantar sekarang, kita akan menghadapi persoalan sosial yang lebih besar 10 hingga 15 tahun ke depan,” tegasnya.
Ke depan, Siantar Peduli Anak berencana melanjutkan program serupa di kecamatan lain selama Januari hingga Februari 2026. Komunitas tersebut juga mengajak masyarakat dan perusahaan lokal untuk turut berkontribusi melalui donasi yang dapat disalurkan ke rekening resmi komunitas atau langsung ke posko pengungsian.
Solidaritas masyarakat ini menjadi bukti bahwa di balik bencana alam, kepedulian sosial tetap menjadi kekuatan utama dalam proses pemulihan Sumatera Utara.
Penulis : Admina
Editor : Redaksi

Posting Komentar untuk "Ratusan Anak Korban Banjir di Pematangsiantar Terima Bantuan Perlengkapan Sekolah"